Khadijah binti Khuwalid r.a: Orang
Pertama Yang Beriman
Oleh: Mutiara Fadhillah P
MDTA Al Hidayah Kelas 3
Wanita Mulia Lagi Kaya Raya
Khadijah binti Khuwalid lahir dari
keluarga mulia dan terhormat. Keturunan Suku Quraisy dari Bani Asad. Kahdijah
dikenal sebagai wanita yang mempunyai banyak kelebihan. Beliau sangat cerdas,
taat beragama, dermawan dan pandai menjaga kehormatan. Khadijah dijuluki dengan
nama Ath Thahirah, artinya wanita suci. Selain itu, Khadijah dikenal sebagai
saudagar yang kaya raya. Untuk menjalankan perniagaannya, Khadijah adalah
wanita terkaya dari Bani Quraisy kala itu.
Mimpi Khadijah r.a
Suatu malam Khadijah bermimpi ada
matahari besar yang turun perlahan dari langit Kota Mekah, matahari ini
berhenti tepat di rumahnya. Sinar yang indah memenuhi semua sudut di rumahnya.
Cahayanya lembut, membuat hati menjadi tenang dan menyenangkan siapapun yang
memandangnya pada pagi harinya. Khadijah mendatangi sepupunya, Waraqah bin Naufal.
Untuk menanyakan arti mimpi itu. Khadijah sangat menghormati sepupunya sebagai
orang shaleh yang berimu. Waraqah menghabiskan waktunya untuk membaca kitab
suci. Dari Waraqah, Khadijah sering mendengarkan kisah para nabi. Masya Allah,
Khadijah terpana dengan jawaban Waraqah. “Berbahagialah wahai sepupuku.
Seandainya Allah benar-benar membuat mimpimu menjadi kenyataan, maka cahaya
kenabian akan masuk ke rumahmu dan darinya akan terpancar cahaya risalah nabi
terakhir.”
Muhammad bin Abdullah
Pada suatu ketika, Kahdijah
mendengar kabar tentang seorang pemuda Quraisy Bernama Muhammad. Dia dikenal
dengan sangat Amanah dan berakhlak mulia. Khadijah menawarkan kepada Muhammad
untuk membawa dagangannya ke Syam. Muhammad menerimanya. Maka berangkatlah dia
ke Syam bersama pembantu Khadijah yang Bernama Maisarah. Masya Allah dari
perniagaan ini, Muhammad mendapat keuntungan yang berlipat. Khadijah sangat
senng, apalagi ketika Khadijah endengar cerita dari Maisarah tentang ksiahnya
yang sangat menakjubkan. Sepanjang perjalanan, gulungan awan tebal mengiringi
Muhammad, seolah-olah melindunginya dari sengatan matahari. Maisarah juga
didatangi seorang rahib, Bernama Buhairah. Rahib ini mengatakan baahwa Muhammad
adalah seorang nabi, seperti yang tertulis dalam Surat Taurat dan Injil.
Pernikahan Agung
Khadijah adalah seorang janda.
Begitu banyak tokoh kaum Quraisy yang kaya raya dan terhormat ingin
menjadikannya sebagai isteri, tetapi Khadijah tidak menerimanya. Kini, Khadijah
justru tertarik pada Muhammad, pemuda yang tak banyak harta dan tak punya
kedudukan. Khadijah yakin, Muhammad adalah orang yang dimaksud dalam mimpinya.
Khadijah menceritakan isi hatinya kepada sahabat dekatnya, Nafisah binti
Munabbih. Nafisah menyampaiakan kabar gembira ini kepada Muhammad. Sementara
itu , Muhammad mengabai paman-pamannya bahwa beliau berniat menikah dengan
Khadiajah. Alhamdulillah, atas izin-Nya, berlangsunglah pernikahan Khadijah
dengan Muhammad. Hewan-hewan disembelih lalu dibagikan kepada fakir miskin.
Putera-Puteri Khadijah
Dari pernikahan Khadijah dengan
Muhammad, lahirlah putra pertama yang diberinama Al Qasim, Muhammad pun sering
disebut dengan Abdul Qasim. Lalu lahir putri-putri uhammad, yaitu Zaenab,
Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Fatimah. Kelima putranua lahir sebelum Muhammad
menjadi nabi. Setelah Muhammad menjadi nabi, lahir putra terakhirnya, Abdullah.
Oleh karena itu Abdullah yang dijuliki Ath Thayib, lelaki baik dan Ath Thaahir
yang artinya lelaki suci. Semua anak laki-laki Muhammad meninggal saat mereka
masih kecil. Sedangkan anak perempuan tumbuh dewasa dan mengalami masa Islam
dan ikut hijrah ke Madinah.
Dukungan Sepenuh Hati
Muhamad mulai menyepi ke Gua Hira.
Beliau menghambakan diri kepada Allah Yang Maha Esa. Seperti yang dilakukan
oleh Nabi Ibrahim a.s. hal ini dilakukan sebulan penuh setiap tahun. Khadijah
tak pernah melarang suaminya melakukan kegiatan ini. Beliau mendukung sepenuh
hati, Khadijah menyiapkan makanan dan minuman selama suaminya di Gua Hira.
Bahkan ia mengirim orang untuk menjaga keamanan Muhammad agar taka da yang bisa
mengganggu ibadahnya.
Peristiwa di Gua Hira
Pada suatu pagi, Khadijah melihat
suaminya pulang dalam keadaan ketakutan dan berkata “Selimuti aku!”. Khadijah
menanyakan apa yang telah terjadi. “Wahai Khadijah, sungguh aku mengkhawatirkan
diriku”. Jawab Muhammad. Khadijah yang cerdas memberikan kalimat penghiburan
yang membuat suaminya mendapatkan kejelasan, bahwa Muhammad telah diangkat
menjadi nabi dengan diutusnya Malaikat Jibril kepadanya Waraqah juga mengatakan
bahwa Muhammad harus bersiap diri karena banyak orang yang akan membenci dan
memusuhinya. Bahkan Muhammad akan terusir dari tanah kelahirannya.
Orang Yang Peramakali Beriman
Khadijah adalah orang yang pertama
kali Muhammad sebagai nabi. Beliau manusia pertama yang masuk Islam, Khadijah
turut mendakwahkan Agama Isalm. Benarlah yang dikatakan Waraqah. Gangguan,
ancaman, juga penganiayaan menimpa Nabi Muhammad Saw. Kaum musyrikin tak rela
Nabi Muhammad Saw. menyerukan kalimat tauhid meninggalkan agama nenek moyang,
Khadijah berdiri tegar disamping Nabi Muhammad Saw. Semakin berat ujian,
semakin bertambah pula kesabaran dan kekuatannya.
Tiga Tahun Masa Sulit
Inilah ujian terberat kaum muslimin.
Mereka dilarang untuk bergaul, berjual beli, juga memasuki rumah kaum muslimin terkucilkan
di celah bukit milik Abu Thalib. Alhasil
taka da pasukan bahan makanan. Beberapa orang terpaksa makan daun dan kulit
pepohonan. Setiap hari terdengar jerit tangis bayi dan anak-anak yang
kelaparan, Khadijah tetap bersabar mendampingi Rasulullah Saw. Beliau
mencurahkan segala kemampuannya untuk menghadapi ujian yang berat ini. Usianya
kala itu sudah 65 tahun. Setelah tiga tahun, Allah telah mengirim rayap untuk
memakan perjanjian pemboikotan ini. Berakhirlah masa sulit itu.
Berpulang ke Rahmatullah
Khadijah adalah rahmat bagi
Rasulullah Saw. beliau beriman ketiaka Rasulullah Saw. cemas. Selalu
mendampingi ketika ujian berat menimpa Rasulullah Saw. dengan jiwa dan
hartanya. Pada bulan Ramadhan, seusai pemboikotan Khadijah mengakhiri sefala
ujian berat yang menimpanya, Allah Swt. memanggilnya. Telah disedeiakan istana
di surga dari Mutiara yang tidak ada kebisingan dan kelelahan di dalamnya.
Inilah hadian untuk wanita paling mulia di zamannya.
Pada Momentum Tahun BAru Isalm 1 Muharram 1443 Hijriah. Mari Kita Teladani Kisah Siti Khadijah binti Khuwalid r.a. Semoga Allah Swt. Meridhai Kita Semua, Aamin.
Juara 2
Komentar
Posting Komentar